PENGAJAR CERDAS DENGAN JOYFUL LEARNING
Oleh: Sy. Nani Rahmani
Dunia
pendidikan dan pelatihan (diklat) merupakan dunia yang penuh warna
warni. Dunia diklat juga merupakan dunia yang sangat strategis
sehubungan dengan kemajuan sumber daya manusia. Oleh karena itu,
pendidikan dan pelatihan memerlukan penanganan yang serius dan
sungguh-sungguh. Di samping itu, ia juga memerlukan sentuhan-sentuhan
kreatif dan imajinatif yang sejalan dengan “apa adanya” manusia serta
“kekinian” zaman. “Apa adanya” manusia merujuk kepada penanganan diklat
yang menyentuh semua bagian diri manusia yang terdiri atas fisik,
pikiran dan hati. Sedangkan “kekinian” zaman merujuk kepada pendidikan
dan pelatihan yang aplikatif dan mengadaptasikan dirinya terhadap
kondisi saat ini, baik dari segi isi, metode maupun manfaat. 
Ada
banyak teori yang dikemukakan para pakar untuk meningkatkan kualitas
pendidikan dan pelatihan. Salah satu metode yang berusaha mengakomodir
kepentingan fisik, pikiran dan hati manusia sesuai situasi dan kondisi
saat ini adalah metode Joyful Learning (pembelajaran yang menyenangkan).
Apa itu Joyful Learning?
Joyful Learning
merupakan metode pembelajaran yang melibatkan rasa senang, bahagia, dan
nyaman dari pihak-pihak yang sedang berada dalam proses belajar
mengajar. Di sini terdapat keterikatan cinta dan kasih sayang antara
fasilitator dan peserta diklat maupun antar peserta diklat. Tak ubahnya
seperti ikatan cinta antara sepasang kekasih, keterikatan hati di dalam
proses belajar mengajar akan membuat masing-masing pihak berusaha
memberikan yang terbaik untuk menyenangkan pihak lain. Fasilitator
dengan semangat menggebu-gebu akan berusaha optimal memimpin kelas
dengan cara yang paling menarik, sedangkan peserta dengan antusias dan
berlomba-lomba ikut aktif ambil bagian dalam setiap kegiatan. Dengan
demikian, Joyful Learning menjadi sarana yang membuat
fasilitator maupun peserta diklat menjadi betah menjalani sesi demi sesi
pelajaran sehingga hasilnya akan maksimal.
3 Gaya Belajar
Dalam metode joyful learning,
pengajar yang merupakan fasilitator mencari bahan-bahan dan alat-alat
pengajaran yang paling menarik perhatian para peserta diklat. Ia juga
menerapkan kegiatan-kegiatan yang dapat membuat kelas menjadi bergerak
dan dinamis. Untuk itu, seorang fasilitator terlebih dahulu perlu
memahami perbedaan gaya belajar peserta diklat.
Secara garis besar, ada tiga gaya belajar (learning style),
yaitu audio, visual dan kinestetik. Orang yang memiliki gaya belajar
audio lebih tertarik dan memahami pelajaran yang disampaikan dengan
suara. Sedangkan orang dengan gaya belajar visual cenderung lebih mudah
dan cepat menerima informasi melalui penglihatannya, baik berupa tulisan
maupun gambar. Selanjutnya, pembelajar kinestetik sangat senang belajar
dengan aktifitas fisik yang langsung bersentuhan dengan objek yang
dipelajari.
Dengan
mempertimbangkan beragamnya gaya belajar tersebut, maka bahan, alat dan
kegiatan yang dipilih melibatkan sebanyak mungkin indera. Hampir
mustahil untuk membagi-bagi kelas peserta berdasarkan perbedaan gaya
belajar mereka. Oleh sebab itu, maka bahan, alat dan kegiatan yang
digunakan dikompilasi agar dapat mengakomodir gaya belajar seluruh
peserta diklat. Beberapa saat fasilitator menyampaikan materi dengan
suara. Selain itu ia juga menampilkan tulisan, gambar atau rekaman
video. Di saat yang lain ia mengajak peserta bermain peran, games
atau mengadakan lomba. Tak terkecuali dalam proses ini melakukan
aktivitas-aktivitas yang “heboh” seperti bertepuk tangan, menyanyi,
berlari, dan sebagainya. Semua ini tidak hanya akan membuat kelas
menjadi hidup, namun juga menyalurkan kebutuhan ketiga gaya belajar di
atas. Semakin banyak indera yang terlibat, semakin baik proses
penyerapan materi.
Dalam dunia modern saat ini, tidaklah sulit mencari bahan-bahan maupun games yang berguna untuk pengajaran. Dengan hanya mengklik beberapa website di internet ditambah dengan ide-ide segar dan kreatif, seorang fasilitator dapat memperoleh ribuan bahan dan games siap pakai.
Tidak perlu khawatir menggunakan games yang biasa dimainkan anak-anak. Bahkan orang dewasapun butuh bermain. Tak heran jika di banyak tempat kita melihat orang-orang kantoran sedang asyik main Play Station, Point Blank, zuma, dan berbagai games lainnya. Mengapa? Karena main game
itu mengasyikkan, bisa membuat orang lupa waktu dan tempat. Begitu juga
jika hal ini diterapkan dalam proses pembelajaran. Bukan hanya
menghindarkan kejenuhan dan rasa kantuk, kegiatan-kegiatan yang “heboh”
seperti ini akan meninggalkan kesan yang lama dalam memori peserta
diklat. Tentu saja games yang dipilih disesuaikan dengan topik yang sedang dibicarakan.
Setelah selesai melakukan sebuah game atau kegiatan tertentu, fasilitator kemudian mencari feedback dari peserta. Diskusi tentang refleksi atau makna dari kegiatan atau game
yang telah dimainkan akan merangsang imajinasi peserta. Berbagai
pendapat akan muncul sehingga makin memperkaya wawasan dan ilmu.
Kegiatan
seperti ini juga dapat menghindarkan fasilitator dari kesan menggurui.
Apalagi mengingat bahwa para peserta diklat adalah orang dewasa yang
memiliki banyak pengetahuan dan pengalaman. Untuk itu, fasilitator
membuka kesempatan sebanyak-banyaknya kepada peserta untuk memberikan
pendapat. Menahan diri untuk tidak “mengajari” mungkin akan sulit. Namun
boleh jadi fasilitator akan terkejut dengan kehebatan dan kepintaran
peserta menyelesaikan suatu masalah. Bahkan pendapat mereka bisa jadi
lebih baik dan tepat dengan situasi aktual. Jika begitu, mengapa
menyusahkan diri sendiri untuk menjadi orang paling pintar?
Keseimbangan Otak Kiri dan Otak Kanan
Teori tentang pembagian otak kiri dan otak kanan serta perbedaan fungsi kedua hemisphere
otak tersebut dikemukakan oleh seorang peneliti bernama Roger Sperry.
Otak kiri identik dengan rapi, angka, tulisan, bahasa, hitungan, logika,
analitis, matematis dan sistematis. Proses berpikirnya bersifat logis,
sekuensial, linear, dan rasional. Sedangkan otak kanan identik dengan
kreativitas, persamaan, khayalan, bentuk atau ruang, emosi, musik dan
warna serta cenderung tidak memikirkan hal-hal yang terlalu mendetail.
Cara berpikirnya bersifat acak, tidak teratur, intuitif dan holistik.
Kedua
belahan otak ini penting. Oleh karena itu, pembelajaran yang baik
adalah yang melibatkan keduanya. Mengapa? Karena kedua belahan otak
memerlukan aktivitas yang seimbang untuk menghindari kelelahan. Sistem
pembelajaran dengan metode ceramah, misalnya, lebih banyak merangsang
kerja otak kiri. Jika ini berlangsung selama berjam-jam, maka otak kiri
dipaksa melakukan aktivitas yang berlebihan, sementara otak kanan
dibiarkan menganggur. Tidak hanya membuatnya kelelahan, aktivitas
berlebihan memaksa otak kiri agar mengambil nutrisi makanan berupa
oksigen dan glukosa dari otak kanan. Ini mengakibatkan otak kanan
kekurangan nutrisi. Untuk memenuhi kebutuhannya, otak kanan
memerintahkan pemiliknya untuk mendapatkan oksigen dan glukosa dengan
aktivitas-aktivitas tertentu. Alhasil, mulailah sang pemilik otak
melakukan aksi mengkhayal atau melamun, coret-coret, bercanda, dan
sebagainya. Ini merupakan konsekwensi dari pemenuhan kebutuhan otak
kanan terhadap nutrisi tadi.
Jika
hal itu terjadi ketika proses pembelajaran sedang berlangsung,
sesungguhnya fasilitator tidak dapat menyalahkan peserta. Sebaliknya, ia
sesegera mungkin menerapkan metode pengajaran yang berbeda untuk
mendapatkan kembali semangat dan perhatian peserta. Mencari
aktivitas-aktivitas yang dibutuhkan oleh otak kanan akan menjadi solusi
yang jitu. Kegiatan yang berhubungan dengan hiburan semisal menyanyi,
pemutaran video klip lucu, bermain peran, games atau lomba merupakan beberapa alternatif yang dapat digunakan.
Demikian
pula sebaliknya. Proses pembelajaran yang terlalu banyak menstimulasi
fungsi otak kanan akan membuatnya kelelahan. Alih-alih menikmati games
yang dimainkan terus menerus, peserta lebih memilih membaca buku atau
modul, mencatat, diskusi dengan teman tentang pelajaran, dan sebagainya.
Metode Joyful Learning
menyeimbangkan antara fungsi otak kiri dan otak kanan. Seimbang berarti
kedua-duanya diaktifkan. Tidak perlu menunggu hingga salah satu hemisphere
otak mengalami kelelahan seperti contoh di atas. Oleh karena itu,
sebelum masuk kelas seorang fasilitator seyogyanya telah mendisain
bahan, alat dan kegiatan yang diperhitungkan dapat merangsang kerja otak
kiri dan kanan di sepanjang pertemuan.
Satu
aktivitas bisa jadi dapat mengaktifkan otak kiri dan otak kanan
sekaligus dalam waktu yang bersamaan. Misalnya, pemutaran video yang
disertai dengan ilustrasi dan penjelasan detil tentang suatu masalah.
Atau memberi tugas hitungan (pajak, bea masuk atau cukai, misalnya)
dengan bermain peran, dimana setting tempat dibuat sama seperti di
kantor. Termasuk juga menghapal rumus melalui lagu atau dengan memainkan
game tertentu, lalu mendiskusikannya.
Untuk
keperluan ini, seluruh bagian dalam ruangan kelas bisa dimanfaatkan.
Dinding kelas dapat ditempeli kertas yang berisi tulisan-tulisan maupun
gambar-gambar warna warni yang berhubungan dengan pelajaran dan
motivasi. Meja-kursi dapat dipindah-pindah untuk melakukan aktivitas
tertentu dan untuk menghindari kejenuhan. Pendeknya, mengoptimalkan
fungsi kedua bagian otak.
Pentingnya Memuji
Banyak
teori pendidikan yang menyatakan bahwa materi pelajaran akan tahan lama
dalam ingatan ketika proses pembelajaran dikaitkan dengan emosi positif
yang kuat. Disebutkan pula bahwa stres, kebosanan, kebingungan,
motivasi rendah dan kecemasan dapat mengganggu proses belajar.
Metode joyful learning
menciptakan suasana yang segar dan jauh dari perasaan tertekan. Dengan
kepiawaiannya, fasilitator menghadirkan kegembiraan dalam proses
pembelajaran. Ia dan para peserta saling support dan saling transfer energi positif.
Satu
hal yang dapat memberi efek positif kuat dalam emosi seseorang adalah
pemberian pujian. Secara naluriah, orang senang dipuji. Pujian dapat
membuat orang merasa bangga terhadap dirinya. Pujian juga dapat
menimbulkan dan meningkatkan rasa percaya diri. Akibatnya orang tersebut
akan termotivasi untuk melakukan suatu pekerjaan dengan lebih baik.
Selain
itu, pujian fasilitator terhadap peserta diklat dapat menimbulkan rasa
suka dan kedekatan. Rasa suka menjadi pintu gerbang yang sangat baik
untuk memunculkan rasa percaya dan loyalitas. Dengan modal ini, seorang
fasilitator akan lebih mudah melakukan persuasi dan kontrol terhadap
peserta.
Pujian
yang baik adalah pujian dengan cara yang benar, yakni apa adanya alias
tidak mengada-ada dan dilakukan dengan tulus. Tidak perlu
berlebih-lebihan, namun juga tidak “pelit” pujian. Ini dapat dilakukan
di sepanjang proses pembelajaran dengan berbagai bentuk seperti acungan
jempol, tepuk tangan, atau ungkapan “bagus, hebat, cerdas”. Intinya
adalah memberikan dukungan emosional terhadap apa yang telah dilakukan
oleh peserta, sekecil apapun, sehingga ia merasa dihargai.
Daftar Pustaka
www.wordpress.com. Joyful Learning. Perlukah Strategi dalam Belajar?
www.edbatista.com. Neuroscience, Joyful Learning and the SCARF Model
www.metamath.com. The Four Learning Styles in the DVC Survey
www.best-camp.com. Benarkah Otak Kanan Lebih Hebat dari Otak Kiri?