BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang MasalahPendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan Negara (Jumali, 2008: 91).
Tujuan pendidikan itu sendiri adalah untuk membentuk sumber daya manusia yang berkualitas tinggi, yaitu manusia yang mampu menghadapi perkembangan zaman. Oleh karena itu, bidang pendidikan perlu mendapatkan perhatian, penanganan, dan prioritas secara intensif baik dari pemerintah, masyarakat maupun pihak- pihak pengelola pendidikan.
Peningkatan mutu pendidikan perlu ditunjang dengan adanya perkembangan dan perubahan di bidang pendidikan. Salah satu upaya peningkatan mutu pendidikan secara keseluruhan adalah melalui peningkatan kualitas pembelajaran yang salah satunya adalah pembaharuan pendekatan atau peningkatan relevansi metode mengajar. Metode mengajar dikatakan relevan jika dalam prosesnya mampu mengantarkan siswa mencapai tujuan pendidikan melalui pembelajaran.
1Menurut Paling dalam Mulyono Abdurrahman (2003: 252) ide manusia
tentang matematika berbeda-beda, tergantung pada pengalaman dan
pengetahuan masing-masing. Ia mengemukakan bahwa matematika adalah suatu
cara untuk menemukan jawaban terhadap masalah yang dihadapi manusia,
suatu cara menggunakan infrasi, menggunakan pengetahuan tentang bentuk
dan ukuran, menggunakan pengetahuan mengitung dan yang paling penting
adalah memikirkan dalam diri manusia sendiri dalam melihat dan
menggunakan hubungan-hubungan. Dengan demikian matematika merupakan
pelajaran yang sangat penting karena mendasari pelajaran-pelajaran yang
lainnya.
|
Berdasarkan pengamatan pada pembelajaran matematika di SMP Negeri 2 Weru, banyak ditemukan berbagai masalah mengenai keaktifan siswa dalam mengikuti pembelajaran di kelas diantaranya: (1) 11,11% siswa yang mengajukan pertanyaan meskipun guru sering memberi kesempatan kepada siswa untuk bertanya tentang hal-hal yang belum dimengerti, (2) 36,11% keaktifan dalam mengerjakan soal-soal latihan pada proses pembelajaran masih kurang, (3) 16,67% keberanian siswa untuk mengerjakan soal di depan kelas.
Permasalahan tersebut muncul karena kurangnya keaktifan dari diri siswa sendiri sehingga membuat kondisi kelas menjadi pasif. Mengingat pentingnya belajar matematika, maka seorang guru matematika dituntut untuk memahami dan mengembangkan metode pembelajaran yang tepat untuk mengatasi masalah tersebut di atas sehingga tujuan pembelajaan dapat tercapai.
Untuk mengatasi masalah yang telah dikemukakan di atas salah satunya adalah dengan menerapkan metode pembelajaran yang dapat meningkatkan keaktifan belajar peserta didik adalah dengan menggunakan metode pembelajaran berbasis Joyful Learning. Selain itu, metode Joyful Learning dapat menjadi alternatif dalam menciptakan pembelajaran yang menyenangkan sehingga kegiatan pembelajaran matematika yang umumnya monoton dan menjenuhkan tidak lagi monoton dan bahkan pembelajaran matematika akan lebih menyenangkan.
Metode pembelajaran berbasis Joyful Learning merupakan metode yang sangat baik digunakan untuk melibatkan peserta didik dalam mempelajari materi yang telah disampaikan. Dengan metode ini siswa dapat meningkatkan keaktifannya dalam belajar matematika karena siswa terlibat secara langsung dalam proses pembelajaran.
Berdasarkan latar belakang di atas peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tindakan kelas dengan judul Peningkatan Keaktifan Belajar Matematika Melalui Metode Pembelajaran Berbasis Joyful Learning.
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut dapat dirumuskan masalah penelitian sebagai berikut:
- Adakah peningkatan keaktifan belajar siswa dalam pembelajaran matematika melalui metode pembelajaran berbasis Joyful Learning?
- Bagaimana proses pembelajaran matematika melalui metode pembelajaran berbasis Joyful Learning?
Penelitian ini secara umum bertujuan untuk mendiskripsikan proses pembelajaran melalui metode pembelajaran berbasis Joyful Learning yang dilakukan oleh guru kelas.
Secara khusus tujuan penelitian ini untuk mendiskripsikan peningkatan keaktifan belajar siswa dalam pembelajaran matematika melalui metode pembelajaran berbasis Joyful Learning.
D. Manfaat Penelitian
Manfaat Teoritis
Secara teoritis penelitian ini diharapkan mampu memberikan sumbangan terhadap pembelajaran matematika untuk dapat meningkatkan keaktifan belajar siswa.
Manfaat Praktis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan solusi nyata berupa langkah-langkah untuk meningkatkan keaktifan belajar siswa pada pokok bahasan Lingkaran dalam pembelajaran matematika melalui metode pembelajaran berbasis Joyful Learning. Penelitian ini diharapkan mampu memberikan manfaat bagi siswa, guru, dan sekolah.
Bagi Siswa
Hasil penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan keaktifan belajar siswa dalam pembelajaran matematika.
Bagi Guru
Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai masukan dan dasar pemikiran guru dan calon guru untuk dapat memilih metode pengajaran yang tepat.
Bagi sekolah
Hasil penelitian ini memberikan sumbangan yang baik dalam rangka perbaikan pembelajaran matematika, peningkatan mutu sekolah, dan meningkatkan profesionalisme guru.
E. Definisi Operasional Istilah
Keaktifan Belajar Siswa
Keaktifan belajar siswa adalah aktivitas siswa dalam proses belajar mengajar yang melibatkan fisik, intelektual, dan emosional.
Pendekatan Pembelajaran Berbasis Joyful Learning
Metode pembelajaran berbasis joyful learning adalah metode alternatif dalam menciptakan pembelajaran yang menyenangkan sehingga kegiatan pembelajaran matematika yang umumnya monoton dan menjenuhkan tidak lagi monoton dan bahkan pembelajaran matematika akan lebih menyenangkan.
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Kajian Teori- 1. Keaktifan Belajar Matematika
- Hakikat Matematika
Menurut Uno B. Hamzah (2007: 129) matematika adalah sebagai suatu bidang ilmu yang merupakan alat pikir, berkomunikasi, alat untuk memecahkan berbagai persoalan praktis, yang unsur-unsurnya logika dan intuisi, analisis dan konstruksi, generalitas dan individualitas, serta mempunyai cabang-cabang antara lain aritmatika, aljabar, geometri, dan analisis.
Dapat disimpulkan bahwa matematika adalah ilmu yang mendasari berbagai ilmu pengetahuan lain dalam bentuk bahasa simbol untuk menemukan suatu jawaban terhadap permasalahan yang dihadapi manusia baik berupa informasi ataupun pengetahuan tentang bentuk dan ukuran.
- Hakikat Belajar
Menurut Purwanto (2007: 102) faktor-faktor yang mempengaruhi belajar dibedakan menjadi dua golongan, yaitu:
1) Faktor inidvidu yakni faktor yang ada pada diri organism itu sendiri meliputi kematangan, kecerdasan, latihan, motivasi, dan faktor pribadi.
2) Faktor sosial yaitu faktor yang ada di luar individu meliputi faktor keluarga, guru, dan cara mengajar, alat-alat yang digunakan dalam belajar, lingkungan dan kesempatan yang digunakan serta motivasi sosial.
Dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu proses usaha untuk melakukan perubahan tingkah laku, bai tingkah laku berupa kemampuan berpikir, ketrampilan sebagai hasil pengalaman sendiri dalam interaksi dengan lingkungan.
- Keaktifan Belajar
1) Kegiatan-kegiatan visual: Membaca, melihat gambar-gambar, mengamati eksperimen, demonstrasi, pameran, dan mengamati orang lain bekerja atau bermain.
2) Kegiatan-kegiatan lisan (oral): Mengemukakan suatu fakta atau prinsip, menghubungkan suatu kejadian, mengajukan pertanyaan, memberi saran, mengemukakan pendapat, wawancara, diskusi, dan interupsi.
3) Kegiatan-kegiatan mendengarkan: Mendengarkan penyajian bahan, mendengarkan percakapan atau diskusi kelompok, mendengarkan suatu permainan, mendengakan radio.
4) Kegiatan-kegiatan menulis: Menulis cerita, menulis laporan, memeriksa karangan, membuat rangkuman, mengerjakan tes, dan mengisi angket.
5) Kegiatan-kegiatan menggambar: Menggambar, membuat grafik, chart, diagram peta, dan pola.
6) Kegiatan-kegiatan metrik: Melakukan percobaan, memilih alat-alat, melaksanakan pameran, membuat model, menyelenggarakan permainan, menari, dan berkebun.
7) Kegiatan-kegiatan mental: Merenungkan, mengingat, memecahkan masalah, menganalisis faktor-faktor, melihat hubungan-hubungan, dan membuat keputusan.
8) Kegiatan-kegiatan emosional: minat, membedakan, berani, tenang, dan lain-lain.
Menurut Sudjana (2010: 61) keaktifan siswa dalam mengikuti proses belajar mengajar dapat dilihat dalam:
1) Turut serta dalam melaksanakan tugas belajarnya.
2) Terlibat dalam pemecahan masalah.
3) Bertanya kepada siswa lain atau kepada guru apabila tidak memahami persoalan yang dihadapinya.
4) Berusaha mencari berbagai informasi yang diperlukan untuk memecahkan masalah.
5) Melaksanakan diskusi kelompok sesuai dengan petunjuk guru.
6) Menilai kemampuan dirinya dan hasil-hasil yang diperolehnya.
7) Melatih diri dalam memecahkan soal atau masalah yang sejenis.
8) Kesempatan menggunakan atau menerapkan apa yang telah diperolehnya dalam menyelesaikan tugas atau persoalan yang dihadapinya.
- 2. Pendekatan Joyful Learning (Pembelajaran Menyenangkan)
Belajar akan menyenangkan (joyful) jika siswa sebagai subyek belajar melakukan proses pembelajaran berdasarkan apa yang dikendaki. Proses pembelajaran berbasis kompetensi akan sangat berkembang jika guru member keleluasaan dan ototomi kepada siswa untuk memilih kegiatan dan bahan pembelajaran yang akan dilaksanakan. Guru berperan sebagai fasilitator yang secara demokratis member arahan tentang peta proses pembelajaran yang berlangsung. Peta proses pembelajaran itu menyangkut rambu-rambu yang ditawarkan kepada siswa, misalnya waktu, proses yang akan ditempuh dengan kelompok atau mandiri, peta seluruh bahan, hasil yang harus dicapai, cara yang harus digunakan untuk mengetahui pencapaian hasil dan sebagainya.
Oleh karena itu, guru sebaiknya memperhatikan beberapa faktor sebagai berikut:
1) Kebermaknaan
Belajar akan bermakna apabila pemahaman siswa meningkat yang diperoleh dari informasi baru sesuai dengan gagasan dan pengetahuan yang telah dicapai oleh siswa. Apabila istilah dan konsep sering sulit dipahami maka pemahaman tersebut perlu digali melalui pengalaman siswa itu sendiri.
2) Penguatan
Penguatan terdiri atas pengulangan oleh guru dan latihan oleh siswa. Pengulangan dan latihan tersebut dapat mengurangi proses lupa. Dalam pendekatan joyful learning penguatan merupakan sesuatu yang harus diperhatikan.
3) Umpan balik
Kegiatan pembelajaran akan lebih efektif bila siswa menerima dengan cepat tentang hasil-hasil belajar tersebut. Umpan balik sederhana misalnya respon siswa terhadap pertanyaan yang diajukan oleh guru atau koreksi pekerjaan siswa.
Beberapa model pembelajaran yang dapat mendukung pendekatan joyful learning antara lain:
1) Diskusi
Diskusi memiliki arti penting dalam mengembangkan pemahaman. Hal ini disebabkan karena diskusi membawa siswa menggunkakan konsep yang mereka pelajarai serta mengubahnya menjadi bentuk ekspresi yang cukup menyenangkan bagi siswa.
2) Penyelidikan Terbimbing
Penyelidikan terbimbing sangat relevan dengan pembelajaran matematika karena akan memberikan peluang bagi siswa untuk meneliti apa yang mereka pelajari dan menerapkannya pada dunia nyata. Penyelidikan terbimbing dapat dilakukan dalam berbagai bentuk, diantaranya mencari pembuktian suatu rumus.
3) Metode IODE
Istilah IODE merupakan akronim bahasa inggris dari Intake (penerimaan), Organization (pengaturan), Demonstrasi (peragaan), dan Expression (pengungkapan). Keempat huruf tersebut menunjukkan bahwa ada empat jenis kegiatan murid yang pada urutan kegiatan belajar. Model belajar tersebut merupakan cara belajar alami dan memperoleh pengetahuan baru dalam bidang studi dan cukup menyenangkan siswa.
4) Model Pemecahan Masalah
Model ini dapat digunakan dalam pendekatan joyful learning karena dapat menarik minat siswa untuk memecahkan masalah-masalah yang muncul dalam penyelesaian soal-soal matematika.
5) Kerja Kelompok
Melalui kerja kelompok dapat menjadi peluang untuk menentukan tujuan, mengajukan, menyeidiki, menjelaskan konsep dan membahas masalah. Kerja sama siswa dapat merangsang pemikiran mereka untuk berbagi gagasan menjadi bagian dari suatu kelompok akan menumbuhkan rasa saling memiliki, saling menghormati, dan bertanggung jawab.
- 3. Pembelajaran Matematika dengan Mengunakan Joyful Learning
Langkah- langkah proses belajar mengajar dengan pendekatan joyful learning adalah:
- Guru menjelakan materi pelajaran dengan metode ceramah dan tanya jawab.
- Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok kecil 4-5 orang dan diberi soal latihan untuk disesuaikan pada waktu itu juga.
- Setelah selesai mengerjakan soal tersebut, siswa disuruh mendemonstrasikan di depan kelas.
- Cara menunjuk siswa untuk mengerjakan di depan dengan cara permainan.
- Siswa menyimpulkan materi yang dipelajari.
- Guru menyempurnakan kesimpulan yang telah diperoleh dari siswa dan memberikan penghargaan kepada siswa yang berani mendemonstrasikan jawaban ke depan kelas.
- 4. Pokok Bahasan Lingkaran
Keliling lingkaran: Adalah panjang dari seluruh garis lengkung lingkaran. dilambangkan dengan K, dan dirumuskan dengan K = 2pr atau K = pd
( = 3, 14 atau )
Luas lingkaran: Adalah luas daerah yang dibatasi oleh keliling lingkaran.
Luas daerah lingkaran = p r2. Karena r = , maka luas daerah lingkaran dapat diubah menjadi
B. Kajian Pustaka
Terdapat beberapa penelitian yang dilakukan dalam rangka peningkatan kualitas belajar menggunakan berbagai strategi dalam beberapa mata pelajaran. Adapun penelitian pembelajaran tersebut antara lain:
Wang WEI (2011) dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa JCLS dapat membantu anak-anak peserta didik untuk memiliki pengalaman belajar yang lebih baik dalam hal pengalaman belajar, belajar konstruktivis dan pembelajaran yang menyenangkan. Banyak pelajar menjawab bahwa Joyful Classroom Learning System (JCLS) dapat meningkatkan motivasi belajar mereka dan membantu mereka berkonsentrasi pada pengajaran dan kegiatan belajar.
Sri Wahyuni (2011) dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa proses pembelajaran matematika melalui metode pembelajaran berbasis Joyful Learning dapat meningkatkan motivasi belajar matematika.
Anisa Rahmawati (2010) dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa dengan penerapan pendekatan discovery terbimbing mempunyai peran penting dalam meningkatkan keaktifan belajar siswa. Proses pembelajaran yang menerapkan pendekatan discovery terbimbing membuat siswa lebih aktif menjawab pertanyaan, mengerjakan soal, dan meningkatkan hasil belajar matematika.
Puji Purwati (2010) dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa dalam pembelajaran matematika yang menggunakan pendekatan active learning dapat meningkatkan keaktifan siswa.
Purwiyastuti (2009) dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa penerapan variasi metode pembelajaran berbasis Joyful learning dapat meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar matematika.
Tabel 2. 1
Dari peneliti terdahulu di atas secara seksama dapat divisualisasi sebagai berikut:
Variabel
Nama |
X1
|
X2
|
X3
|
X4
|
X5
|
X6
|
Sri Wahyuni
|
√
|
√
|
||||
Purwiyastuti
|
√
|
√
|
||||
Puji Purwati
|
√
|
√
|
||||
Anisa Rahmawati
|
√
|
√
|
||||
Wang WEI
|
√
|
|||||
Peneliti
|
√
|
√
|
X2 = Active Learning
X3 = Discovery terbimbing
X4 = Keatifan
X5 = Motivasi
X6 = Kualitas proses dan hasil belajar
C. Kerangka Berpikir
Pembelajaran matematika pada saat ini masih didominasi oleh guru yang aktif dalam kegiatan belajar mengajar dan siswa hanya pasif mendengar dan menerima apa yang diberikan oleh guru padahal dalam ketentuan sekarang ini menuntut keaktifan siswa dalam pembelajaran matematika.
Pada kondisi awal rendahnya keaktifan belajar matematika siswa kelas VIII D dilihat dari indikator adalah sebagai berikut: 1) Keaktifan dalam mengajukan pertanyaan sebesar 11,11%. 2) Keaktifan mengerjakan soal-soal latihan pada proses pembelajaran sebesar 36,11%. 3) Keberanian siswa dalam mengerjakan soal di depan kelas sebesar 16,67%.
Kemudian mengimplementasikan metode pembelajaran matematika berbasis joyful learning dengan langkah-langkah: Guru menjelakan materi pelajaran dengan metode ceramah dan tanya jawab. Selanjutnya siswa dibagi menjadi beberapa kelompok 4-5 orang dan diberi soal latihan untuk diselesaikan pada waktu itu juga. Setelah selesai mengerjakan soal tersebut, siswa disuruh mendemonstrasikan di depan kelas. Cara menunjuk siswa untuk mengerjakan di depan dengan cara permainan. Selanjutnya siswa menyimpulkan materi yang telah dipelajari. Tahap akhir dengan memberikan latihan kepada siswa dan penilaian secara individu.
Dengan penelitian ini diharapkan persentase keaktifan belajar siswa dalam pembelajaran matematika meningkat dilihat dari indikatornya sebagai berikut: 1) Keaktifan dalam mengajukan pertanyaan menjadi 22,22% . 2) Keaktifan dalam mengerjakan soal-soal latihan pada proses pembelajaran menjadi 55, 56%. 3) Keberanian siswa dalam mengerjakan soal di depan kelas menjadi 30,56%.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis PenelitianJenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) atau Classroom Action Research (CAR) yang dilakukan secara kolaborasi antara kepala sekolah, guru matematika dan peneliti. Menurut Hopkins dalam Sutama (2010: 15) penelitian tindakan kelas adalah penelitian yang mengkombinasikan prosedur penelitian dengan tindakan subtansif, suatu tindakan yang dilakukan dalam disiplin inkuiri, atau suatu usaha seseorang untuk memahami apa yang sedang terjadi, sambil terlibat dalam sebuah proses perbaikan dan perubahan.
Penelitian tindakan ditandai dengan adanya perbaikan terus menerus sehingga tercapainya sasaran dari penelitian tersebut. Perbaikan tersebut dilakukan pada setiap siklus yang dirancang oleh peneliti. PTK bercirikan perbaikan terus menerus sehingga kepuasan peneliti menjadi tolak ukur berhasil tidak nya siklus-siklus tersebut.
B. Tempat dan Waktu Penelitian
Tempat Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan di SMP Negeri 2 Weru. Penelitian di tempat ini didasarkan atas pertimbangan bahwa sekolah tersebut memiliki jumlah siswa yang representatif untuk diteliti. Selain itu lokasi mudah dijangkau peneliti sehingga lebih efisien dalam mendapatkan data. Sekolah ini termasuk sekolah favorit, hal ini ditunjukkan dari kualitas yang cukup baik dan banyak siswa baru yang terus bertambah dari tahun ke tahun.
Waktu Penelitian
Penelitian ini direncanakan akan dilaksanakan pada tahun ajaran 2011/2012. Adapun rincian waktu penelitian sebagai berikut:
Tabel 3. 1
Tabel kegiatan penelitian di SMP Negeri 2 Weru
Kegiatan Penelitian
|
November
|
Desember
|
Januari
|
Februari
|
|||||||||||||||
Minggu
|
I
|
II
|
III
|
IV
|
I
|
II
|
III
|
IV
|
I
|
II
|
III
|
IV
|
I
|
II
|
III
|
||||
Perencanaan
|
X
|
X
|
X
|
X
|
X
|
X
|
X
|
||||||||||||
Pelaksanaan
|
X
|
X
|
X
|
||||||||||||||||
Analisis Data
|
X
|
X
|
X
|
||||||||||||||||
Pelaporan
|
X
|
X
|
|||||||||||||||||
- C. Subyek Penelitian
- D. Rancangan Penelitian
- Dialog Awal
- Perencanaan Tindakan Kelas
- Memperbaiki kompetensi material guru dalam bidang matematika.
- Identifikasi masalah dan penyebabnya.
- Perencanaan solusi masalah.
- Pelaksanaan Tindakan
- Observasi dan Monitoring
- Refleksi
- Evaluasi
- Penyimpulan
E. Metode Pengumpulan Data
Penelitian tindakan kelas dilakukan bersifat deskriptif kualitatif. Sumber data primer adalah peneliti yang melakukan tindakan dan siswa yang menerima tindakan, sedangkan data sekunder berupa data dokumentasi. Pengambilan data dapat dilakukan dengan teknik observasi, catatan lapangan, tes, dan dokumentasi.
- Observasi
Dalam penelitian ini, observasi digunakan untuk mengetahui adanya perubahan tingkah laku tindakan belajar siswa yaitu peningkatan keaktifan siswa dan hasil belajar matematika melalui metode pembelajaran joyful learning. Peneliti melakukan observasi sesuai dengan pedoman observasi yang ditetapkan.
- Catatan Lapangan
- Tes
- Dokumentasi
F. Instrumen Penelitian
- Pengembangan Instrumen
Keterlibatan peneliti dalam aktivitas penelitian dalam bentuk kegiatan dibedakan menjadi partisipasi sebagian (partial participal) dan partisipasi penuh (full participal). Partisipasi sebagian adalah suatu proses kegiatan yang berantai, peneliti hanya mengambil sebagian yang dianggap perlu untuk dilakukan pengamatan, sedangkan partisipasi penuh artinya pengamatan selalu mengambil bagian dengan melibatkan diri di dalamnya dari serangkaian pross tanpa melihat untuk membedakan momen-momen yang dianggap penting dan kurang penting. Metode ini digunakan untuk mengamati tingkah laku siswa secara langsung saat pembelajaran di dalam kelas.
- Validitas Instrumen
G. Teknik Analisis Data
Analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode alur. Dimana langkah-langkah yang harus dilalui dalam metode alur meliputi pengumpulan data, penyajian data, dan verifikasi data.
- Proses Analisis Data
- Penyajian Data
- Verifikasi Data
H. Keabsahan Data
Keabsahan data menurut Sukmadinata dalam Sutama (2010: 101) dapat dilakukan melalui observasi secara terus menerus, triangulasi sumber, metode, dan peneliti lain, pengecekan anggota, diskusi teman sejawat, dan pengecekan referensi. Dalam penelitian ini, keabsahan data dilakkan dengan observasi secara terus menerus dan triangulasi data.
Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain diluar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu. Dalam penelitian ini, keabsahan dilakukan dengan triangulasi sumber, yaitu membandingkan data hasil pengamatan tes dengan hasil observasi lain.
DAFTAR PUSTAKA
Abdurrahman, Mulyono. 2003. Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar. Jakarta: Rineka CiptaArikunto, Suharsini. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta
Catur, Chatarina. 2008. “Joyful Learning”. http://catharinacatur.wordpress.com/2008/10/15/joyful-learning/ diakses tanggal 15 Oktober 2011
Hamalik, Oemar. 2008. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara
Jumali, M, dkk. 2008. Landasan Pendidikan. Surakarta: Muhammadiyah University Press
Moleong, Lexy J. 2008. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya
Rahmawati, Anisa. 2010. “Peningkatan Keaktifan Belajar Matematika Melalui Pendekatan Discovery Terbimbing”. Skripsi. Surakarta: UNS (Tidak Dipublikasikan)
Purwanto, M. Ngalim. 2007. Psikologi Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya
Purwati, Puji. 2010. “Peningkatan Keaktifan Siswa Dalam Pembelajaran Matematika Melalui Pendekatan Active Learning”. Skripsi. Surakarta: UNS (Tidak Dipublikasikan)
Purwiyastuti. 2009. “Penerapan Variasi Metode Pembelajaran Berbasis Joyful Learning Untuk Meningkatkan Kualitas Proses dan Hasil Belajar Matematika”. Skripsi. Surakarta: UMS (Tidak Dipublikasikan)
Slameto. 2003. Belajar dan Faktor – Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta
Sudirman. 2007. Cerdas Aktif Matematika. Jakarta: Ganeca Exact
Sudjana, Nana. 2010. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya
Sutama. 2010. Penelitian Tindakan Teori dan Praktek dalam PTK, PTS, dan PTBK. Semarang: Surya Offset
Uno, Hamzah B. 2007. Model Pembelajaran Menciptakan Proses Belajar Mengajar yang Kreatif dan Efektif. Jakarta: Bumi Aksara
Wahyuni, Sri. 2011. “Peningkatan Motivasi Belajar Matematika Melalui Metode pembelajaran Berbasis Joyful Learning pada Siswa kelas V SD N Kleco 2 Surakarta Tahun Ajaran 2010/ 2011”. Skripsi. Surakarta: UMS (Tidak Dipublikasikan)
Wang WEI, Chun, dkk. 2011. “A Joyful Classroom Learning System With Robot Learning Companion For Children To Learn Mathematics Multiplication”. The Turkish Online Journal Of Educational Technology/ Vol. 10 No. 2, pp. 1-13